Selasa, 18 Juni 2013

PEMIKIRAN PENDIDIKAN NIZHAM AL-MULK





Pendidikan Islam mulai dilaksanakan oleh Rasulullah Saw. setelah menerima wahyu yang pertama yaitu surat AlMudatsir ayat 1-7. Dalam hal ini Rasulullah Saw menyeru (mengajak) kepada keluarganya kemudian baru kepada sahabatnya dan masyarakatnya. Sedangkan tujuan pendidikan yang dilaksanakan oeleh Rasulullah Saw. tidak terlepas dari tujuan dakwahnya yaitu membangun pola kehidupan beradab dan menanamkan keimanan yang baik.

Pendidikan Islam pada masa Rasulullah Saw. mengalami perkekmbangan-perkembangan yang cukup signifikan terjadi ketika Rasulullah hijrah ke Yatsrib (Madinah). Indikasi perkembangannya adalah dari tujuan pendidikan yang diarahkan kepada pembinaan aspek-aspek kemanusiaan sebagai hamba Allah Swt untuk mengolah dan menjaga kesejahteraan alam semesta untuk itu umat Islam dibekali dengan pendidikan tauhid, akhlaq, amal ibadah, kehidupan social kemasyarakatan dan keagamaan, ekonomi, kesusasteraan bahkan kehidupan bernegara.

Pendidikan Islam pada masa shahabat tidak begitu jauh berbeda dengan pendidikan Islam yang ada pada masa Rasulullah Saw. ada perkembangan yang terjadi pada masa khalifah Utsman bin Afan. Di masa kepemimpina Utsman bin Afan pendidikan Islam lebih diarahkan pada pengajaran baca tulis, hal ini di dorong oleh semangat Utsman untuk mengumpulkan mushaf-mushaf  al-Qur’an.

Mengkaji perjalanan pendidikan Islam pada masa Rasulullah Saw dan pada masa para sahabatnya, pendidikan Islam berjalan dan mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarkat pada waktu itu (social demand).

Pada masa kekuasaan Bani Saljuk, pendidikan Islam terus berkembang dengan ide-ide dan pemikiran  pendidikan Nizam al-Mulk yang waktu dia itu menjabat sebagai perdana menteri   dimasa Sultan Alp Arsalan dan Malik Syah. Pendidikan Islam pada masa Nizam al-Mulk  mengalami kemajuan da perkembangan yang  pesat dan cukup tertata menejemennya. Berdirinya Madrasah Nidhomiyah pada bulan Dzulhijjah 457 H di Baghdad pada waktu itu merupakan suatu bukti kongkrit dari majunya pendidikan Islam pada masa kepemimpinan Nizam al-Mulk.


PEMIKRAN PENDIDIKAN NIZAM AL-MULK DALAM KONTEK HISTORIS

Kemenangan Bani saljuk atas dinasti Buwaihi di Irak dan berhasil memasuki kota Baghdad merupakan titik awal kemenanagan golongan Ahlussunah wal Jamaah terhadap Syiah. Penguasa Bani Saljuk merasa bertanggungjawab untuk melanc`rkan propaganda melawan Syi’ah yang telah ditanamkan oleh Bani Buwaihi. Keinginan untuk menghidupkan kembali ajaran ahli Sunnah wal Jamaah mendorong Bani Saljuk  untuk menyiarkan ajaran agama yang sebernya dalam kontek sunni.

Kemudian Nizam al;Mulk mempelopori pendirian madrasah-madrasah. Madrasah Nidhomiyah di Baghdad merupakan madrasah yang pertama kali didirikan oleh Nizam al-Mulk pada bulan Dzulhijjah tahun 457 H. yang diarsiteki oleh Abu Said al-Shafi[5]. Selain itu dia juga mendirikan madrasah-madrasah di daerah daerah  lain di bawah kekuasaan Bani Saljuk. Pendirian madrasah madrasah disamping untuk mengembangkan pendidikan Islam juga sebagai media untuk menanamkan ajaran-ajaran dari paham Sunni.

Madrasah Nizamiyyah didirikan dengan tujuan :
Pertama, menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi pemikiran Syiah. Kedua, menyediakan guru-guru Sunni yang cukup untuk mengajarkan madzhab Sunni dan menyebarkan ke tempat-tempat lain. Ketiga, Membentuk kelompok pekerja Sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintah, memimpin kantornya, khususnya di bidang peradilan dan menejemennya.

Terwujudnya madrasah sebagai institusi yang mandiri terpisah dari masjid di dasarkan atas tuntutan perkembangan  ilmu pengetahuan yang semakin luas dan menuntut tingkat penanganan yang lebih serius dan terencana. Sehingga Von Kremer seorang ahli ketimuran yang berkebangsaan Jerman mengatakan: “bukan kamar di masjid yang menuntut agar dikembangkan menjadi madrasah akan tetapi kemajuan ilmu pengetahuanlah yang mencetak orang-orang yang melihat betapa sulitnya menjalani kehidupan yang layak dan terhormat nelalui pengajaran yang bersifat abstrak”

Untuk memberikan kesempatan belajar yang lebih layak, maka didirikan madrasah yang lebih memungkinkan dan kondusif  untuk proses belajar mengajar.
Alasan lain pemindahan madrasah dari masjid adalah alasan yang bersifat etis yang terkait dengan fungsi pelaksanaan ritus-ritus ibadah yang menuntut adanya ketenangan sedangkan proses Bahkan berisik atau menggangu ketenangan. Abhkan dengan semakin luasnya pendidikan untuk anak anak akan menambah bising masjid serta tidak terjaganya masjid dari najis.  Dalam kaitannya dengan ini Rasulullah pernah memerintahkan untuk menjaga masjid dari keramaian anak-anak karena biasanya mereka tidak bisa menjaga kesucian.

DR. H. Maksul berpendapat bahwa dan telah dipertimbangkannya kembali masjid sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan ada tiga alasan:
Pertama, Kegiatan pendidikan di masjid dianggap telah mengganggu fungsi utama lembaga itu sebagai tempat ibadah.
Kedua, berkembangnya kebutuhan ilmiah sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, banyak ilmu yang tidak bisa lagi diajarkan  di masjid. Dalam kaitan tersebut  Ahmad Salabi menyatakan bahwa: “ ilmu berkembang dengan perkembangan zaman, pengetahuan pun lebih maju lagi”.
Ketiga, timbulmya orientasi baru dalam penyelenggaraan pendidikan  sebagai guru mulai berfikir untuuk mendapatkan  rizki melalui kegiatan pendidikan. Dikatakan ada diantara pengajar yang pekerjannya sepanjang hari mengajar dan arena itu berusaha untuk memperoleh penghasilan yang memamdai. Untuk menjamin hal itu maka  dibangun lembaga, lembaga lain yaitu madrasah, karena jaminan seperti itu tidak diperoleh di masjid.

Dalam kajian yang lebih terfokus pada madrasah Nizamiyah pada abad pertengahan di Baghdad, Makdisi mengajukan teori bahwa asal-musal pertumbuhan madrasah  merupakan hasil tiga tahap  yaitu tahap masjid, tahap masjid khan dan tahap madrasah.

Tahap masjid berlangsung terutama  pada abad ke delapan dan kesembilan, masjid dalam konteks ini bukanlah masjid yang berfungsi sebagai tempat jamaah sholat bagi seluruh penduduk kota, yang bisa dikenal dengan masjid jami’, Masjid Raya, atau Cathedral Mosque atau Conggregatual Mosque. Masjid masjid seperti ini biasanya diatur oleh negara dan tidak terbuka untuk pendidikan. Agama bagi umum. Masjid yang dimaksud sebagai tempat pendidikan adalah masjid biasa (masjid college) yang disamping sebagai tempat ibadah shalat juga sebagai temapt majlis taklim (pendidikan). Di Baghdad pada masa itu terdapat beribu-ribu masjid jenis yang terakhir ini di berbagai temapat yang menyebar. Para penguasa seperti Daul al-Daulah (wafat 965) Alh Sahib Bin Abda 9 wafat 995) dan Di’lil Al Sijiztani (wafat 965) merupakan pelopor  orang yang mendukung perkembangan masjid untuk pendidikan ini.
Tahap kedua adalah masjid khan, yaitu masjid yang dilengkapi bangunan khan (asrama pemondokan) yang masih bergandengan dengan masjid. Berbeda dengan masjid biasa. Masjid khan menyediakan temapt penginapan  yang representative bagi pelajar yang berasal dari luar kota, tahap ini berkembang pesat pada abad kesepuluh.

Setelah dua  tahp berkembang barulah muncul madarsah yang khusus  diperuntukan sebagi lembaga pendidikan. Madarasah de3ngan demikian menyatukan dengan lembaga masjid biasa dengan masjid khan. Kelompok madrasah terdiri dari ruang belajar, ruang pemondokan dan masjid, menurut Makdisi, perkembangan madrsah dalam polanya yang  kongkrit dipelopori oleh Nizam al-Mulk.


INTERVENSI POLITIK DALAM PENDIRIAN MADRASAH
         Musuh yang dihadapi oleh Dinasti Saljuk  yang sunni ini adalah Dinasti Fatimiyah di Mesir yang beraliran Syiah. Ketetapan awal untuk membina lemabga pendidikan (madrasah) ialah karena suatu pertimbangan bahwa untuk melawan Syiah tidak cukup dengan ekuatan senjata, melainkan juga harus melalui penananman ideology yang dapat melawan ideology Syiah.[12] Pertimbangan ini dilakukan karena Syiah sangat aktif dan sistematik dalam melakukan indoktrinasi  melaluli pendidikan atau aktivitas pemikiran yang lain.

Madarasah sebagai lembaga baru yang didirikan Nizam Al Mulk ini dirancang sebagi  sebuah lemabaga Negara  utnuk meningkatkan indoktrinasi agama  berdasarkan agama Islam Sunni dan indoktrinasi politik bergaya gaya Turki dan Parsi. Dari gambaran tersebut nampaknya bahwa pendirian madrasah oleh Nizam Al Mulk itu sangat sarat dengan muatan politik dan agama dalam konteks Sunni. Adapun motif politik yang melandasinya adalah usaha untuk mempertahankan kedudukan penguasa dengan mendiriksn madrasah yang lengkap dengan fasilitas sebagai upaya untuk menarik simpati rakyat.
Intervensi politik pada masa pendirian Madrasah Nizam Al Mulk (madrasah Nidomiyah) akan sangat nyata apabila kita telusuri dari intervensi pemerintah dalam menetapkan tujuan-tujuannya, menentukan kurikulum, guru dan dana pendidikan, seperti yang diungkapkan Abd. Madjid al;Futuh:” Madarasah Nidzamiyah merupakan lembaga pendidikan resmi dan pemenritah terlibat dalam menetapkan tujuan-tujuannya, menggariskan kurikulum,  memilih guru, dan memberikan dana yang teratur kepada madrasah.

Akan tetapi Makdisi berkesimpulan lain bahwa Madrasah Nidzamiyah tidak dicampuri oleh Negara ialah akrena berkaitan dengan pilihan terhadap salah satu madzhab dari madzhab Sunni yang berbeda dari madzhab yang dianut raja Saljuk. Baik Alp Arsalan maupun Malik Syah. Nizaqn Al Mulk memilih mengajarkan madzhab safi’i dengan kalam Al-Asy’ariyah sesuai dengan madzhabnya sendiri. Padahal Raja –Raja Saljuk penganut  fanatic madzhab Hanafi dengan  aliran kalam Maturidiyyah.

Relitas seperti ini rupanya bukan menjadi maslah bagi Raja-Raja Saljuk yang penting bagi mereka adalah kelanggengan kekuasaannya. Dengan demikian sikap membiarkan NIzam Al-Mulk untuk mengambil pra karsa demikian merupakan bagian dari strateginya pula. Yang penting adalah kekuatan Nizam Al Mulk dan penganut madzhabnya dapat dimanfaatkan untuk melaawan Syiah yang waktu itu merupakan musuh utamanya.

Melihat posisi Nizam Al Mulk yang pada awaktu itu sebagi wazir aktif (perdana menteri) maka hal yang melatarbelakangi pendirian madrasah ialah motifasi politik yang sangant kental dan masalah ketenagakerjaan yang tidak dapat dipisahkan dengan kehendak memeperlancar tugas dan pemerintahan negara baik untuk keuntungan sendiri maupun demi bani Saljuk.
Adanya motof politik dan agama yang menjadi latar belakang pendirian madrasah Nidzamiyah tersebut tidak menafikan arti positif berdirinya lembaga tesebut. Arti posistif tersebut berupa adanya penanganan pendidikan dengan lebih baik dan terencana dengan melibatklan sumber daya dan sumber dana yang memadai yang dilakukan oleh Negara

MENEJEMEN MADRASAH NIDZAAMIYAH
 Madrasah Nidzamiyah yang didirikan oleh Nizam Al Mulk di Bghdad dan madrasah madrasah lainnya  dibawah kekuasaan bani Saljuk sudah mempunyai system menejemen yang  cukup baik. Hal tersebut di atas dilatarbelakangi adanya campur tangan Negara dal`m masalah pendidikan pada waktu itu, sehingga masalah pendidikan Islam mulai terencana dengan baik dari mulai tujuan, kurikulum, perekrutan tenaga pendidikan sampai pada pendanaan dan sarana prasarana. Seperti yang diungkapkan Abd.Al Madjid al-Futuh’ madrasah Nidzamiyyah merupakan lembaga pendidikan resmi pemerintah terlibat dalam menetapkan tujuan-tujuannya, menggariskan kurikulum, meilih guru dan memeberi dana yang teratur kepada madrasah. Yang menarik dari inovasi pendidikan Nizam Al-Mulk adalah dalam menangani menejemen keuangan madrasah yaitu dengan mengoptimalkan dana wakaf.[16] Untuk pembiayaan pendidikan. Hal ini dijadikan alternative solusi untuk menciptakan pendidikan masal yang murah bagi rakyat denagn fasilitas yang cukup memadai.

Denagan adanya dana yang memadai, para syaikh (kalau sekarang professor) dan mudarris dapat digaji secara professional atas tugas tugas pengajaran yang dilakukannya.

Dari uraian di atas maka masalah masalah menejemen pada pendidikan Nizamiyah sudah cukup tertata dengan baik, artinya bahwa segala sesuatau yang akan dilakukan sudah terencana, baik dalam masalah sarana dan prasarana, tujuan, kurikulum,  perekrutan guru sampai pada masalah pendanaan lembaga madrasah Nidzamiyah.

PENUTUP
Demikianlah kajian singkat tentang pemikiran pendidikan Nidzamiyah dalam konteks historis dan manajemennya, memenag pada kenyataannya pada Nizam Al-Mulk disamping sebagi wazir namun dia menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan Islam, terlepas apakah ada motifasi politik dan agama serta kebutuhan dari tuntutan perkembangan zaman. Manajemen yang ada pada masa itu juga sudah tertata cukup baik hal ini ditandai dengan pengelolahan lembaga pendidikan (Madrasah Nidzamiyah) sampai pada pengelolhan tanah wakaf.


DAFTAR PUSTAKA


Baca Abdul Madjid Abdul al Futuh Badawi, Tarikh al-Syiasyi  wa al-Fikri , (Al;Mansur:Mathabi’ al;Wafa 1988)
 Ahmad Salabi, At-Tarbiyah al-Islamiyah, Nuzumuha, Falsafatuha, Tarikuha,  1978
 Gerge Makdisi, Muslem Instituttion of Learning in Elephent-Century Baghdad,  dalam bulletin Of the School of Oriental and African Studies 22, 1961
 Hamid Hasan Bil Grami, Konsep Universitas Islam, Yogyakarta, Tiara Wacana, 1989
  Hanun Asrori Sejarah Pendidikan Islam, PT Logos Wacana Ilmu, Ciputat 1999
 MAksum, DR. Madrasah, sejarah dan Perkembangannya, Jakarta, Tiarawacana, 1999
 [1][1] Muhammad Athiyah Al-Abrosy, At TArbiyahAl-Islamiyah wa Falsaftuha, Darul Fikr, tt, hal 72
 Mehdi Nekosteen, Kontribusi Islam atas Intelektual Baarat, Deskripsi analisis abad keemasan Islam. Surabaya, risalah Gusti,1996